Posted by: Nane | October 28, 2009

Emotional eater…

“Eat, think and be merry!”

Why is it when we’re sad, happy, angry or whatever, we often turn to food for our greatest comfort?? It doesn’t apply to everyone, but it certainly applies to me…!  Which explains that when I’m overwhelmed with emotions, you can *ehem* see it…. hahaha….  When I’m happy, I celebrate it by dining out…  When I’m sad I crave the solitary of myself with a nice cake in my company….  When I’m stressed I need a cup of starbucks or chocolate to make me feel better…  When I’m angry, I will get picky with my food cause I have to make sure that the food will swallow all my sorrows away…

I read in a book that you are what you eat…  Emotion wise of course… When you’re happy, your food of choice could be steak or pizza, when you’re sad it could be ice cream or cookies, and when you’re bored it could be potato chips. Food does more than fill our stomachs — it also satisfies feelings, and when you quench those feelings with comfort food when your stomach isn’t growling, that’s emotional eating.

Well… What I’m trying to do now is change my eating habits so that what I put in my mouth is also nourishing my body and not necessarily just tasting good.  I’m doing pretty good so far, but it’s tough because I’m also an emotional eater, and when I’m feeling particularly sad or dejected, I tend not to care about all that. ..

javascript:void(null);
Posted by: Nane | July 23, 2009

selamat jalan papa….

I never knew I could hurt like this
And everyday life goes on I wish
I could talk to you for a while
Miss you but I try not to cry
As time goes by
And it’s true that you’ve
Reached a better place
Still I’d give the world to see your face
And be right here next to you
But it’s like you’re gone too soon
Now the hardest thing to do is say
Bye bye…

Kemarin pagi pada pukul 5.00 am saya mendapat telfon dari teman saya.
Mendengar kabar tersebut, saya langsung terdiam seribu bahasa. Ada 1 satu menit dimana saya terdiam dan tidak berbicara apa-apa di telfon sangking shock-nya saya, hanya mendengarkan teman saya berbicara terlalu cepat hingga kata-katanya melebur menjadi satu dan membuat saya tidak bisa paham secara langsung.

Satu menit kemudian saya mengecek apakah kabar yang saya dengar itu benar. Ternyata benar. Saya tidak merintihkan air mata pagi itu. Saya hanya bisa banyak diam seperti ada yang merenggut sesuatu dari hati saya. Saya menyampaikan kabar itu ke ayah dan ibu saya. Mereka juga shock mendengarnya, dan menuruh saya untuk tidak masuk kantor hari itu. Tapi saya tetap masuk kantor. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa terdiam. Ayah dan ibu saya yang mengantar saya juga terdiam, dan tidak ada sepatah katapun yang terucap dalam perjalanan.

Saya tahu kemarin jadwal saya sangat padat. Saya ada 3 meeting, dimana saya harus menyampaikan beberapa presentasi. Saat saya sampai di meja saya pada pagi hari, saya menelfon sahabat saya, Seto. Tak lama kemudian, tiba-tiba air mata mengalir deras dari mata saya hingga saya terisak-isak di telfon. Sakit sekali. Saya terus menerus menangis, bahkan hingga telfon sudah tertutup. Ada 30 menit saya menangis sendirian di meja. Untung saya sampai di kantor pagi sekali, sehingga tidak ada yang melihat saya. Di dalam keheningan itu saya terus menerus menangis, berusaha menerima kabar bahwa Bapak Drs. Ellyzar Ismahun Maulana Adil, M.Si., dosen dan pembimbing saya yang telah saya anggap ayah ke-2 saya, telah meninggal dunia.

Sambil menulis tulisan inipun, saya rasanya masih ingin menangis.
Tak kusangka beliau begitu cepat meninggalkan kita. Tepat 2 minggu yang lalu saya datang ke Depok dan berbincang-bincang dengan beliau di sore hari… saya melihat sosoknya yang tidak pernah saya lihat selama 6 bulan. Sebelumnya saya sering sms beliau, menanyakan kabarnya… sms terkahir darinya sudah hilang dari hp saya, namun saya masih ingat dengan jelas beliau menulis di akhir kalimatnya: “Main-main ke Depok ya sayang… Papa sayang dan kangen banget sama kamu“… Saya kemudian mengatakan bahwa minggu depan saya akan ke Depok. Tapi, keadaan saya disela-sela kesibukan tidak memungkinkan saya ke Depok… Satu bulan kemudian akhirnya saya ke depok, yaitu 2 minggu yang lalu.

Saat saya lihat, beliau sudah jauh mengurus, dan wajahnya terlihat letih sekali… Namun seperti biasa, saat berbicara, beliau masih semangat menceritakan segala sesuatu dengan detail… Beliau bercerita banyak mengenai keadaan biologi sekarang dan juga penyakit kardiovaskular yang sedang dihadapinya… Penyakit yang sedikit demi sedikit memakan tubuhnya… Mendengar ceritanya, hati saya teriris sedikit demi sedikit. Apalagi saya saat ini berada di perusahaan farmasi dan memegang obat-obat kardiovaskular… rasanya saya sangat tidak berguna sekali…
Akhir kata, saat beliau sudah dijemput oleh anaknya, beliau mengatakan: “Jaga diri kamu baik-baik ya nane..” Saya mencium tangan beliau dan beliau mengelus kepala saya. “Bapaklah yang jaga diri… Bapak sudah kurus seperti ini..” Beliau hanya bisa menghela nafas dan tersenyum sebelum mengatakan “Papa pulang dulu ya…” dan kemudian masuk ke mobil. Saya sama sekali tidak menyangka itu akan menjadi pertemuan terakhir dengannya.

Setelah pertemuan itu, saya senantiasa memikirkan beliau… Ingin saya sms, tapi saya tahu kalau beliau sudah tidak membawa hp lagi… Saya senantiasa ingin bertemu beliau… Ingin sekali membelikan beliau sebuah kado untuk ulang tahunnya pada bulan oktober nanti… Saat saya befikir mengenai ulang tahunnya, saya sempat merinding karena saya kepikiran: “apakah saya masih bisa bertemu beliau lagi saat ulang tahunnya?”… Tak kusangka pikiran yang mengganggu itu menjadi kenyataan…

Dan kemarin, 22 Juli 2009, pada pukul 2.30 di kediamannya di Komplek Sukamaju, wilayah Depok Timur, beliau menghembuskan nafas terakhirnya…

Dari pertama kali bertemu pada tahun 2003, saya selalu melihat sosok Pak Ellyzar, dosen saya, pembimbing saya, ayah kedua saya, itu sebagai sosok guru yang ceria… Sosok guru yang selalu berusaha untuk tetap positif dan menyemangati murid-muridnya… Pertama kali bertemu dengan beliau adalah saat tingkat pertama kuliah. Beliau selalu disenangi para mahasiswanya karena kepribadiannya yang easy going dan ramah kepada semua orang… Saya pun selalu mengaguminya…

Saat duduk di bangku mata kuliah fisiologi hewan pada tahun 2005, sayapun menjadi dekat dengannya. Beliau terus menerus mendukung saya yang saat itu menjadi po study tour ke bali… Dengan penuh semangat, pak Ellyzar selalu bersedia membantu kita… Hubungan saya dan beliau menjadi semakin dekat saat beliau menjadi pembimbing saya dimulai pada pertengahan tahun 2006. Dari tahun 2006 hingga 2008 beliau telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir saya… Sembari bercerita panjang lebar, beliau selalu tersenyum dan terlihat memiliki semangat hidup yang tinggi… Setiap kali beliau pergi untuk bertugas ke kupang, beliau akan selalu ingat saya dan membawakan saya oleh-oleh kecil… Kenangan-kenangan dari beliau masih saya simpang hingga sekarang. Beliau juga pandai membaca garis tangan, dan saya senantiasa selalu berkonsultasi kepadanya.

Kemarin malam, saya mengumpulkan semua barang-barang yang telah ia berikan kepada saya… Saya masukkan syal, dompet, beberapa kain jilbab, tulisan-tulisan beliau, foto-foto… Tapi… Saya tidak dapat mengingat semuanya… Pak Elly memberi saya banyak hal, tapi saya tidak dapat mengingat semuanya… Di tengah tengah mengumpulkan semua barang itu, sekali lagi saya menangis… Karena yang saya kerap terbayang di dalam benak saya hanyalah tawanya, suaranya yang khas, kata-katanya, dan wajahnya yang tersenyum..

Bagaimana bisa saya melupakan beliau…?? Beliau memang telah meninggalkan banyak hal untuk saya, dan juga untuk semua mahasiswa-mahasiswanya…

Kemarin saat saya mengunjungi makamnya, saya sejenak tidak berani melihat tulisan yang tertera di nisan… Saya masih belum bisa percaya…
Saya rasanya masih ingin bercerita banyak hal ke beliau… Dan saya masih ingin beliau tetap ada di Biologi… saya masih membutuhkan beliau untuk ada di dalam kehidupan saya… tapi… beliau sudah pergi,..  Saya bahkan tidak dapat memimpikannya dan mengucapkan selamat jalan dalam mimpi….

Tadi pagipun, tanpa saya sadari saya masih merintihkan air mata untuk beliau.. Saya tahu saya harus merelakannya… Mengikhlaskannya… Mendoakan yang terbaik untuknya… Meski sulit rasanya….

Papa…
nane sayang dan kangen banget sama papa…
Selamat jalan papa….
Kita pasti akan bertemu lagi…

I never knew I could hurt like this
And everyday life goes on I wish
I could talk to you for a while
Miss you but I try not to cry
As time goes by
And it’s true that you’ve
Reached a better place
Still I’d give the world to see your face
And be right here next to you
But it’s like you’re gone too soon
Now the hardest thing to do is say
Bye bye…

Posted by: Nane | July 17, 2009

Friday Mourning

Crazy. Plain Crazy.
So this morning has been pretty hectic. As soon as I stepped in the office everyone was talking about a bomb that just exploded in the Mega Kuningan area, which is fairly close to the business district of Sudirman in which I work in.

Automatically, I could sigh, take a deep breath and cross my fingers that it wasn’t a bomb. That it was probably an jetset explosion or an accident of some sort… But a couple of minutes ago, there was a confirmation letter in my office inbox that reconfirmed that it was indeed an bomb. Don’t get it. The last time this kind of thing shocked me was in 2005, a series of bombing in Bali, just a couple of weeks before my classmates and I planned the trip to Bali. And here it is… Another bomb. Just one day after I passed by that area.

This is insane. It’s most likely that the MU match that everyone except me is so excited about (since I don’t like soccer) will be cancelled. Another attempt in trying to make a clean slate in Indonesia is once again destroyed. Once again, Indonesia will still be known as one of the country of terrorist or some sort… Which makes me pretty sad, because I know that’s not true and probably 99,9% of the population will also feel heart broken hearing this spiteful news…

I have a great feeling the most suspected people to do these are gonna be Islamic religious societies such as JI or some sort…. But then again, I don’t think that pointing out the finger and condemning certain groups of people is the right answer… And these kind of things will only cause more religious war in the world. I Hate that!! Hopefully those people who are responsible for these kind of terrible news will soon get what they deserve!!

My company have held/participated in a number of events in the 2 hotels (Ritz Carlton & JW Marriott) that have allegedly been bombed this morning. Just last week, we just had a big congress there… A while back my colleague and I took some great photo sessions in Marriott…. And a couple of months ago, my friend and I stayed over at Ritz Carlton Kuningan and stayed up for a long heart to heart session while drinking and watching the view from the 12th floor wide hotel room window…

I can’t believe it all just fell apart.
Usually it’s friday I’m in love for me… But today it’s friday mourning….

Posted by: Nane | July 7, 2009

Normal?

What is considered weird? What is considered normal? If a person is different, does it categorize them as ‘not’ normal? And if we’re not normal, would we be considered as weird? Or a deviant? And since when was it okay for us to judge what is normal and what is not?

I remember once, in the “Animal Structure” class I took in University, my lecturer started to tell a story about a woman he met in a hospital he used to work in. He said he saw this woman with 2 breasts yet 6 nipples… And at the end he would ask us:
“Would you consider that there is something wrong with how God created her body? Would you consider her weird? Would you consider her a deviant?”
As plain and naive students we would nod our heads. But then he would shake his head in disagreement.
“It’s not weird. It’s just different. Different may be considered as ‘not’ normal. But just because a person is ‘not’ normal, it doesn’t categorize them as a deviant.”

I remember that class until today.

Sometimes I see a handicap, an elderly, or just basically someone with different way of living… and I feel like I have an obligation to treat them a certain way, I have an obligation to treat them with special treatment, much much differently than the way I treat others. Even though I know, if they knew that they were being treated differently, they would most likely NOT appreciate it…

Sometimes I just feel like there’s something wrong with me…
Sometimes I just close my eyes cause I just don’t wanna know…
Why can’t I keep an open mind?
Why can’t I see the bigger picture?

“It’s not weird. It’s just different. Different may be considered as ‘not’ normal. But just because a person is ‘not’ normal, it doesn’t categorize them as a deviant.”

A simple lesson yet sometimes I feel like I’m still learning its concept, and it’s still hard for me to accept at times. But I still lean towards it. One day I wanna be that person who can think with a more open mind.

Weew… Hari ini saya cukup emosi… Entah kenapa… Hanya saja tadi pas membuka email ada sesuatu yang membuat saya bergejolak terhadap teman-teman bio 2003 yang saya cintai ini…  Oleh karena itu… Tulisan saya hari ini specifically dedicated to Biologi UI 2003, my second family.. ^__^

Pertama-tama saya ingin bercerita…  Bahwa saya masuk Biologi UI itu bukan pilihan pertama saya dalam SPMB, tapi pilihan ke-2, karena saya tidak cukup tekun, rajin dan niat untuk masuk ke pilihan pertama saya, yaitu FK… Kalau pintar, saya cukup pintar kok! ^^  Hanya saja saat SMA, saya lebih memilih kehidupan sosial saya ketimbang belajar.. hehe..

Cita-cita awal saya adalah menjadi sastrawan. Saat SMP saya ingin sekali masuk English Literature, along with Shakespeare, Edgar Allen Poe, L.M. Montgomery, dan penulis-penulis zaman dahulu kala… Selain itu saya senang sekali jika harus belajar bahasa baru… satu hal kelebihan saya adalah saya bisa mempelajari bahasa asing dengan cukup cepat… Narsis mode ON.. ^^

Ibu saya bercita-cita saya bisa menjadi dokter… Atau salah satu anaknya bisa menjadi dokter… Sayangnya, kakak tertua saya masuk FT kemudian menjadi fotografer, dan kakak laki-laki saya masuk FKM tapi bercita-cita menjadi koki…  Sedangkan saya??  Ibu saya tidak menyerah… Dia masih menyuruh saya mendaftar FK, kemudian Biologi pilihan ke 2 karena paling mendekati FK.  Sebagai cadangan jika saya tidak lolos SPMB, saya sudah diterima di program d3 “Industrial Instrumental Physics” di UI (hueeks…. dunno why??)..
Anyway, saya memiliki hak untuk menentukan pilihan ke3 saya untuk masuk Sastra Perancis… Saat saya tidak lolos FK, saya sedikit lega karena tidak terpaksa menjadi dokter… Saya berharap saya tidak lolos Biologi kemudian diterima di Sastra, tapi kenyataannya saya diterima di Biologi.

Tahun pertama saya menjalani perkuliahan sebagai anak biologi, saya amat sangat tersiksa! Saya hampir tidak pernah masuk kelas dan nilai saya hancuur!! >__<  Saya rasa orang tua saya juga cukup frustrasi dengan saya yang keras kepala itu… Tapi entah kenapa, setelah 1 tahun berlalu, saya tiba-tiba memiliki semangat untuk belajar… Dan secara cukup drastis saya meningkatkan IP saya..
Kalau dipikir-pikir kenapa tiba-tiba saya memutuskan untuk tetap di Biologi??  Saya akan menjawab dengan mudah…  Ya..  Karena Biologi 2003… ^__^

Sungguh, baru pertama kali saya merasa sangat nyaman berada di sebuah lingkungan…  Terutama lingkungan MIPA yang bisa dikatakan Fakultas yang ekstrim dengan anti-sosialnya…  Tapi Biologi 2003 itu sangat berbeda dari stereotipe anak-anak MIPA lainnya…  Biologi 2003 itu menjadi semangat saya…  Bersama dengan 32 mahasiswa lainnya di Biologi angkata 2003, saya berusaha untuk menjadi lebih baik…

Memang, kalau kita menghadapi semuanya dengan niat tulus dan optimis, semua yang tadinya terasa “tidak bisa” menjadi “bisa”… And everything just fits to pieces! ^^  Selama 5 tahun saya bersama Biologi 2003.  2 Tahun terakhir (2007-2008) memang sudah sedikit merenggang karena kesibukan masing-masing, tapi bagaimanapun juga, Biologi 2003 masih menjadi semangat saya..

Biology 2003

Saya ingin merecap ulang top 10 list correlating to Bio UI 2003:

1.  First and LAST trip to Pulau Pramuka… Yang membuat kita dinobatkan menjadi angkatan paling sakit jiwa diantara angkatan Biologi lainnya, tapi seiring dengan kesulitan itu, pulau Pramuka membuat kita menjadi benar-benar dekat satu sama lain.

2.  HimBio 2005… Ipuuul!!…sebagai ketua… Itu pun sudah kita skenariokan di tangga Balai sidang pada hari sabtu yang cerah agar Ipul yang menang.. hehe… Untung ga ketangkep KPK.. Maaf yah.. Seto, Nugie.. hehe… Tapi thanks God karena kita mendapatkan nobat Himpunan Terbaik MIPA 2005..!! Sampai sekarang belum ada angkatan Biologi lain yang bisa mengalahkan kita looh.. ^__^

3.  Debat Calon Ketua HimBio.  Tiba-tiba terlontar sebuah pertanyaan dari adik kelas yang tidak tahu diri.. “Angkatan 2003 itu angkata bayang-bayang..!!” Langsung histerislah kitaa… Sampe kita membuat hari bayang-bayang, dimana kita sepakat untuk memakai warna hitam setiap hari selasa sebagai peringatan kejadian itu.. hahaha

3.  BexPeek 2005 (Biology Exploring Week); yang membuat kita sekali lagi ‘tampak’ sakit jiwa di mata angkatan-angkatan lain… Namun hasilnya TOP banget..!! We received the most and biggest sponsorship that Biology UI has ever gotten!!

4.  OPT 2005, disaat kita meng-ospek anak2 2005, kita sekali lagi mendapatkan julukan-julukan aneh dari dosen dan kakak kelas dan di-judge dari gaya pakaian kita… hahahaha…

5.  Kelas Taksonomi Tumbuhan Vaskular.  KIta dinobatkan lagi sebagai “Angkatan Flamboyan” alias kebanyakan gaya… hahaha… Dan kita bangga.. ;)

6.  Bali…!! Satu-satunya angkatan yang bisa make the excuse of ‘Studi Banding’ to get 7 day getaway to Bali… Saya cukup bangga sebagai Project Leader.. :D Meski kegiatan kita sama sekali tidak didukung oleh KaDep, tapi masih bisa mendapatkan sponsor..! horee… ^__^  Satu-satunya angkatan yang bisa melakukan ini.. hihi…

7.  Video angkatan…! Sangking narsisnya kita membuat video angkatan sendiri berisi interview-interview dan cita-cita harapan kita 10 tahun mendatang… Video yang membuat gw nangis dan ketawa di saat yang bersamaan.. Guys.. Kita nonton videonya 9 tahun lagi yah! ^___^

8.  Angkatan dengan masa kelulusan tercepat.. dengan 2 orang yang lulus 3,5 tahun.. dan tercatat sebagai angkatan tercerdas dan berhasil mencetak cukup banyak mahasiswa cumlaude…! haha… Iya.. Di Bio itu memang rata-rata 5-6 tahun baru lulus.. Tapi kita berhasil membuktikan itu dengan 5 tahun maksimal…!! (gw termasuk.. haha)

9.  Angkatan dengan jumlah tersedikit…. 33 orang..!!  Awalnya kita berjumlah 45 orang.. Namun banyak sekali yang gugur di tengah jalan atau tidak tahan dan pindah ke tempat lain.. (hampir termasuk saya)…  Namun kita masih dekat dengan 13 orang lainnya yang telah pergi itu dan hingga saat ini masih kita anggap sebagai bagian dari Biologi 2003.. ^_^

10. Dan yang terakhir adalah… Just because… We always stick together.. It is definately something worth mentioning.. :)

Akhir kata saya ingin mengucapkan…
Terima kasih telah menerima saya sebagai bagian Biologi UI 2003..  I’m very happy and proud to be a part of this community… ^_________^
No words can explain how much you guys mean to me…

Posted by: Nane | June 9, 2009

Women hormonal HELL….!!!

Today I feel like my mood swings are caused by my unbalanced hormonal discharge.  One minute I’m super nice, another minute I’m just angry (arrgh!!), and then all of the sudden I’m super nice again…  It does make me feel like a three-headed monster sometimes, and no doubt I feel a little bit guilty for all the people close to me that has to tolerate my craziness today.. haaha…

I am pretty sure that men and women both experience their share of mood swings, but for some reason, female mood swings are just so obvious..! A noted difference between a man and a woman… When a man is cranky, they usually assume “it’s a bad day! and don’t bug me!”…  But for women, the mood is like so unstable and it goes up and down like a roller coaster ride..!

There’s that magnificent excuse that we women use to act like a witch with a capital B (and works everytime) called “PMS”, medically known as Pre-Menstrual Syndrome.  The mood swings that makes us that way is generally attributed to the biological evidence that there is link between our mood to our menstrual cycle, usually the PMS state is tracked down around one week before our period, and you can usually detect it when a women just blurts out all of their repressed negative feelings.. haha… ;p

Anyway, here are some tips for people who are facing women with PMS…

1.  No surprises.  Do NOT drop any big news / questions / problems that can insanely turn a woman into a raving stressed out lunatic.  Usually when in PMS, a woman does not have her FULL attention and everything in her head is like a disastrous catastrophe, so if there is anything that requires her to make grand decisions, wait for a better time when she can give it her full attention with a sane mind.

2.  Don’t point out the PMS.  Women can be touchy about being labeled as a lunatic for a few days a month (it’s the harga diri thing.. ;p). If you notice a woman’s behavior a little out of control, just don’t blame the PMS.  A woman at this state will feel like she is controlled and make her feel angrier.. haha…

3.  Understand diet changes.  Women often seek comfort food, carbs and chocolate when they’re PMS-ing regardless of their otherwise strict diet.Do NOT comment on her new dietary choices, and the best you can do right now is stay out of the way between food and a woman… haha

4.  Do NOT make changes.  At a time like this, sometimes a woman just need to stick to a routine to feel like she is in a secure position.  Do NOT make a change to typical routines, because it will make repressed negative feelings of ‘things are changing’ drama queen act come out. ;p

Well, so far these are the tips that I thought of..
Hopefully it can help the lives of many people out there who doesn’t know what to do when faced with PMS-ing women.. :)  
(Somehow I was in a good mood when I wrote this despite my current PMS).. ;p Thus I thought I should write this before I get angry again..!! hahaha…

Posted by: Nane | June 3, 2009

So I don’t become too hard and too cold…

I came across my best friend’s blog today… After a couple of months of not checking it, it turns out that in the past 3 months she has updated quite a lot…!  Short entries that describes her days and somehow functions as a medium for her unstable emotions…

Hmm…. I wonder why i can’t write simple things like that anymore.

I remember the first time I made a blog, along with my friend vinta, I think it was a compensation of our emotional breakdown since we were facing the same crappy things…  The beginning of our blogging days seemed very productive with daily entries that just reflected so many things…. The words poured out of our heads like water…  We see our blogs as a place to just communicate how we feel, how we think, what we are going through, which at the time we needed it to calm down our mental state.. haha

Just like the famous Indonesian pianist / composer Ananda Sukarlan always say, and if I may quote him, he says: “I write when I’m horribly lonely…“ 

That’s exactly how I used to feel.

But along with time, I think I’ve healed  A LOT….  And I’ve grown up A LOT…..  Simple problems like the past just didn’t seem like it’s particularly necessary to be recorded and written down for the whole world’s exposure…  And because I decided to maintain this blog, the entries just became somewhat pointless, unemotional, and solely exist to compensate my free time…

I don’t get it.

I used to write everyday.  I used to be able to jot down the things that I couldn’t say…  But now somehow, due to my sudden reflex to change and my para-sympathetic nervous system (haha), I have become somewhat like this robot whose wall just becomes higher and higher with time and refuses all these emotions because I’m afraid it will hurt me and push me down again…!  It’s like I’m trying to just protect myself and be strong but at the end, I just feel like I’ve become this whole different heartless person…  And somehow it makes me scared, because I don’t want to be like that.

My best friend said to me a while back, she said “Nane you have changed… A lot… And somehow I like the you right now better cause she just seems way stronger… “

In a way, I feel like I have changed for the better…  I also feel a lot stronger than before…  The only thing that I’m afraid of is that….  You know that saying??  “Living in New York makes a person hard and cold”..?  Well, it has nothin to do with new York, but I do feel like I have become a bit harder and colder…  Only that I don’t want to be too cold or too hard…  That’s why I feel like I need to start writing again… ;)

Posted by: Nane | May 17, 2009

The Power of Communication…

Membaca kembali buku2 yang dulu saya gunakan dalam penulisan skripsi saya itu bagaikan membaca versi ilmiah dari “chicken soup for the soul”…
Saya ingin sedikit berbagi dari buku “The evolution of Primates” karangan Jolly A. 1985 pada halaman 192 bab 10 mengenai “communication”…

We rarely tell a person ‘i like you,’ and hardly ever tell them, ‘you bore me.’  We rarely need to say it; a deep look in the eyes or a glance away, a step or a shift of the shoulders is enough.  Saying the phrase would suddenly raise the situation to a different level of intensity.  At still higher intensity of love or anger, speech again becomes inadequate: we physically caress or hit each other (Argyle, 1967)

Most personal communication is nonverbal.  Although we value love sonnets and love letters, courtship can do without them.  In fact, the content of conversation may be quite irrelavant to the relationship between the speakers; it means only “Please pay attention to me for I am noticing you,” which is what van Hoof (1967) calls “Grooming talk.”

grooming talk

Yaa… Pada intinya, Jolly (1985) mencoba menyatakan bahwa komunikasi non-verbal terkadang lebih kuat daripada komunikasi verbal… Dan bahkan pada beberapa kasus, komunikasi verbal itu bahkan tidak dibutuhkan sama sekali.

Satu hal yang mungkin akan saya pertanyakan adalah “cinta”.  Apakah pernyataan “cinta” itu begitu penting?  Meski tentunya akan sangat dihargai, namun pada akhirnya kita menyadari bahwa kata-kata itu selalu dikalahkan oleh komunikasi nonverbal.  Contohnya…. menulis surat cinta yang isinya berbagai sumber perasaan yang terdalam…  namun surat itu tak pernah didukung oleh komunikasi non-verbal… seperti tatapan mata, perhatian, belaian, atau bukti-bukti lainnya.  Tanpa adanya bukti-bukti, bukankah pada akhirnya kata-kata tersebut akan menjadi tak berarti??

juga apabila yang kita miliki hanyalah kata-kata…
mimpi… cita-cita… harapan…
semua “kata-kata” tersebut tak akan pernah ada arti tanpa adanya kesempatan untuk menunjukkan bukti dan fakta… atau suatu masa dalam dimensi waktu yang dipergunakan untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan intensitas yang berbeda.
Pada akhirnya everything in this world needs to be evidence based agar dapat diterima oleh akal sehat dan logika…

Komunikasi…
Komunikasi adalah hal pertama yang kita pelajari sejak kecil.
Hanya saja anehnya… Saat kita sudah menjadi dewasa, mempelajari lebih banyak kata-kata, dan belajar untuk benar-benar berbicara…
entah kenapa jadi semakin sulit untuk mengungkapkan apa yang kita benar-benar inginkan….

Posted by: Nane | April 20, 2009

Stuck in the Middle

Saya adalah anak ke-3 dari 5 bersaudara.  Hal tersebut memposisikan saya dalam keadaan terapit diantara 2 kakak dan 2 adik.  Hal tersebut juga memposisikan saya sebagai anak tengah, alias middle child.  Meski adik saya yang pertama dan kakak saya yang kedua juga dalam posisi terapit, namun berdasarkan referensi yang saya baca, anak dengan urutan genap tidak bisa diposisikan sebagai anak tengah.  Berdasarkan korespondensi dengan beberapa orang juga mengatakan bahwa anak berurutan genap, meski dalam posisi terjepit juga, akan cenderung mengikuti perilaku anak tertua ataupun anak terakhir.

Beberapa hari yang lalu, teman saya menegur saya:  “So, you probably have the middle child syndrome right?”
Saat itu saya bingung, karena saya sama sekali tidak pernah mendengar istilah tersebut.  Menjadi anak tengah, saya selalu teringat oleh serial TV jadul “Malcolm in the middle”, dimana Malcolm juga merupakan anak ke-3 dari 5 bersaudara.  Apakah malcolm juga termasuk penderita MCS??
Saya tahu jelas mengenai “First Child Syndrome”, yaitu perilaku anak tertua yang akan selalu berusaha lebih daripada yang lainnya (overachiever) dan selalu merasa memiliki kewajiban untuk memberi contoh yang baik kepada adik-adiknya… Atau “Last Child Syndrome”, yaitu perilaku anak terkecil yang sedikit manja atau merasa dirinya perlu memiliki perhatian khusus dan senang bersosialisasi.  Tapi sebenarnya saya jarang sekali mendengar perbincangan istilah mengenai sifat Middle Child Syndrome (MCS), dan setelah saya telusuri dengan google, ternyata ini yang saya dapat:

The middle child often have a sense of not belonging.  They fight to recieve attention from parents and others because they feel many times they are being ignored or dubbed off as being the same as another sibling. They recieve the least attention from their parents. Being in the middle, a child can feel insecure.  The middle child often lacks drive and looks for direction from the first born child.  Sometimes a middle child feels out of place because they are NOT overachievers and like to go with the flow of things.  They simply work enough to get by.  Being a middle child would mean they are loners and individualists.  They really don’t like to latch on to a person in a relationship, therefore they have trouble keeping a relationship due to lack of interest. They are however very artistic and creative.  They should go into a career in which they could freely express themselves, flexible hours, and continously changing projects.  Since relationships are not of high importance to them, often times they are alone.

Huh… Okay… Setelah introspeksi diri, mungkin saya juga termasuk manusia introvert penyendiri penderita MCS.. (lihat yang di bold).. wah… Penyakit jiwa saya banyak juga yaa… ;p hahaha…

Posted by: Nane | March 30, 2009

Diet oh Diet….???!!!

Saya termasuk seseorang dengan BMI yang melibihi batas normal.
Oleh karena itu, saya sedang berusaha menjaga makan saya…
Tapi setelah saya hitung-hitung dan perhatikan, sepertinya saya juga bukan orang yang gemar makan secara berlebihan…  Saya gemar makan enak, itu pasti… Tapi saya sebenarnya mengetahui kapasitas saya, jadi tak mungkin saya makan berlebihan…

Ada teman saya yang gemar sekali ngemil… tapi tidak suka makan berat…
Saya adalah kebalikannya.  Saya wajib makan 3x dalam sehari.  Jika kelewatan, mungkin gula darah saya langsung nge-drop dan akan merasa lemas dan pusing-pusing.  Jika saya telat makan, asam lambung saya rentan untuk bergejolak…

Jadi di posisi saya yang seperti ini, saya merasa seperti serba salah…
Saya penggemar sayur, buah-buahan dan segala sesuatu yg menyehatkan…
Saya tidak suka mengkunsumsi daging berlemak, protein2 berkolesterol tinggi, ataupun segala sesuatu yang menggunakan pengawet atau pewarna…  I’m all natural.

Tapi… Mengapa oh mengapa nasib saya begini??
Mengapa saya memiliki deposito lemak yang berlebihan?

Kata orang itu bakat.  Bakat gemuk.
Tapi kalau dipikir2, saat ibu saya masih muda, dia tidak gemuk…, melainkan dulu ibu saya sangaaat kurus seperti tiang listrik… Begitu juga dengan ayah saya yang dulunya gemar menggunakan baju-baju junkies…

Jadilah saya terheran-heran…
Yang pasti terkadang saya iri dengan para lelaki yang memiliki hormon testosterone karena dapat mengalami metabolisme yang cepat dan dapat menurunkan berat badan dengan mudah..
Nah, kalau saya??
Saya dulu pernah drop 5-10 kg karena stress dan lupa makan selama 2 bulan saat masih kuliah… tapi sungguh itu sangat tidak enak!! Karena saya juga merasa tidak sehat!!

Gila yaa…
Ini sungguh tidak adil!!
Butuh diet gila-gilaan serta olah raga yang setimpal pula untuk dapat menurunkan berat badan saya secara signifikan!! >___<
meskipun saya tau mostly ini disebabkan karena saya malas berolahraga… hahaha…

but still… saya bingung dengan segala metode diet yang ga jelas dan ga ampuh saya jalankan…. Dunia ini kejaaaaam!!!!

Older Posts »

Categories