I never knew I could hurt like this
And everyday life goes on I wish
I could talk to you for a while
Miss you but I try not to cry
As time goes by
And it’s true that you’ve
Reached a better place
Still I’d give the world to see your face
And be right here next to you
But it’s like you’re gone too soon
Now the hardest thing to do is say
Bye bye…
Kemarin pagi pada pukul 5.00 am saya mendapat telfon dari teman saya.
Mendengar kabar tersebut, saya langsung terdiam seribu bahasa. Ada 1 satu menit dimana saya terdiam dan tidak berbicara apa-apa di telfon sangking shock-nya saya, hanya mendengarkan teman saya berbicara terlalu cepat hingga kata-katanya melebur menjadi satu dan membuat saya tidak bisa paham secara langsung.
Satu menit kemudian saya mengecek apakah kabar yang saya dengar itu benar. Ternyata benar. Saya tidak merintihkan air mata pagi itu. Saya hanya bisa banyak diam seperti ada yang merenggut sesuatu dari hati saya. Saya menyampaikan kabar itu ke ayah dan ibu saya. Mereka juga shock mendengarnya, dan menuruh saya untuk tidak masuk kantor hari itu. Tapi saya tetap masuk kantor. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa terdiam. Ayah dan ibu saya yang mengantar saya juga terdiam, dan tidak ada sepatah katapun yang terucap dalam perjalanan.
Saya tahu kemarin jadwal saya sangat padat. Saya ada 3 meeting, dimana saya harus menyampaikan beberapa presentasi. Saat saya sampai di meja saya pada pagi hari, saya menelfon sahabat saya, Seto. Tak lama kemudian, tiba-tiba air mata mengalir deras dari mata saya hingga saya terisak-isak di telfon. Sakit sekali. Saya terus menerus menangis, bahkan hingga telfon sudah tertutup. Ada 30 menit saya menangis sendirian di meja. Untung saya sampai di kantor pagi sekali, sehingga tidak ada yang melihat saya. Di dalam keheningan itu saya terus menerus menangis, berusaha menerima kabar bahwa Bapak Drs. Ellyzar Ismahun Maulana Adil, M.Si., dosen dan pembimbing saya yang telah saya anggap ayah ke-2 saya, telah meninggal dunia.
Sambil menulis tulisan inipun, saya rasanya masih ingin menangis.
Tak kusangka beliau begitu cepat meninggalkan kita. Tepat 2 minggu yang lalu saya datang ke Depok dan berbincang-bincang dengan beliau di sore hari… saya melihat sosoknya yang tidak pernah saya lihat selama 6 bulan. Sebelumnya saya sering sms beliau, menanyakan kabarnya… sms terkahir darinya sudah hilang dari hp saya, namun saya masih ingat dengan jelas beliau menulis di akhir kalimatnya: “Main-main ke Depok ya sayang… Papa sayang dan kangen banget sama kamu“… Saya kemudian mengatakan bahwa minggu depan saya akan ke Depok. Tapi, keadaan saya disela-sela kesibukan tidak memungkinkan saya ke Depok… Satu bulan kemudian akhirnya saya ke depok, yaitu 2 minggu yang lalu.
Saat saya lihat, beliau sudah jauh mengurus, dan wajahnya terlihat letih sekali… Namun seperti biasa, saat berbicara, beliau masih semangat menceritakan segala sesuatu dengan detail… Beliau bercerita banyak mengenai keadaan biologi sekarang dan juga penyakit kardiovaskular yang sedang dihadapinya… Penyakit yang sedikit demi sedikit memakan tubuhnya… Mendengar ceritanya, hati saya teriris sedikit demi sedikit. Apalagi saya saat ini berada di perusahaan farmasi dan memegang obat-obat kardiovaskular… rasanya saya sangat tidak berguna sekali…
Akhir kata, saat beliau sudah dijemput oleh anaknya, beliau mengatakan: “Jaga diri kamu baik-baik ya nane..” Saya mencium tangan beliau dan beliau mengelus kepala saya. “Bapaklah yang jaga diri… Bapak sudah kurus seperti ini..” Beliau hanya bisa menghela nafas dan tersenyum sebelum mengatakan “Papa pulang dulu ya…” dan kemudian masuk ke mobil. Saya sama sekali tidak menyangka itu akan menjadi pertemuan terakhir dengannya.
Setelah pertemuan itu, saya senantiasa memikirkan beliau… Ingin saya sms, tapi saya tahu kalau beliau sudah tidak membawa hp lagi… Saya senantiasa ingin bertemu beliau… Ingin sekali membelikan beliau sebuah kado untuk ulang tahunnya pada bulan oktober nanti… Saat saya befikir mengenai ulang tahunnya, saya sempat merinding karena saya kepikiran: “apakah saya masih bisa bertemu beliau lagi saat ulang tahunnya?”… Tak kusangka pikiran yang mengganggu itu menjadi kenyataan…
Dan kemarin, 22 Juli 2009, pada pukul 2.30 di kediamannya di Komplek Sukamaju, wilayah Depok Timur, beliau menghembuskan nafas terakhirnya…
Dari pertama kali bertemu pada tahun 2003, saya selalu melihat sosok Pak Ellyzar, dosen saya, pembimbing saya, ayah kedua saya, itu sebagai sosok guru yang ceria… Sosok guru yang selalu berusaha untuk tetap positif dan menyemangati murid-muridnya… Pertama kali bertemu dengan beliau adalah saat tingkat pertama kuliah. Beliau selalu disenangi para mahasiswanya karena kepribadiannya yang easy going dan ramah kepada semua orang… Saya pun selalu mengaguminya…
Saat duduk di bangku mata kuliah fisiologi hewan pada tahun 2005, sayapun menjadi dekat dengannya. Beliau terus menerus mendukung saya yang saat itu menjadi po study tour ke bali… Dengan penuh semangat, pak Ellyzar selalu bersedia membantu kita… Hubungan saya dan beliau menjadi semakin dekat saat beliau menjadi pembimbing saya dimulai pada pertengahan tahun 2006. Dari tahun 2006 hingga 2008 beliau telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir saya… Sembari bercerita panjang lebar, beliau selalu tersenyum dan terlihat memiliki semangat hidup yang tinggi… Setiap kali beliau pergi untuk bertugas ke kupang, beliau akan selalu ingat saya dan membawakan saya oleh-oleh kecil… Kenangan-kenangan dari beliau masih saya simpang hingga sekarang. Beliau juga pandai membaca garis tangan, dan saya senantiasa selalu berkonsultasi kepadanya.
Kemarin malam, saya mengumpulkan semua barang-barang yang telah ia berikan kepada saya… Saya masukkan syal, dompet, beberapa kain jilbab, tulisan-tulisan beliau, foto-foto… Tapi… Saya tidak dapat mengingat semuanya… Pak Elly memberi saya banyak hal, tapi saya tidak dapat mengingat semuanya… Di tengah tengah mengumpulkan semua barang itu, sekali lagi saya menangis… Karena yang saya kerap terbayang di dalam benak saya hanyalah tawanya, suaranya yang khas, kata-katanya, dan wajahnya yang tersenyum..
Bagaimana bisa saya melupakan beliau…?? Beliau memang telah meninggalkan banyak hal untuk saya, dan juga untuk semua mahasiswa-mahasiswanya…
Kemarin saat saya mengunjungi makamnya, saya sejenak tidak berani melihat tulisan yang tertera di nisan… Saya masih belum bisa percaya…
Saya rasanya masih ingin bercerita banyak hal ke beliau… Dan saya masih ingin beliau tetap ada di Biologi… saya masih membutuhkan beliau untuk ada di dalam kehidupan saya… tapi… beliau sudah pergi,.. Saya bahkan tidak dapat memimpikannya dan mengucapkan selamat jalan dalam mimpi….
Tadi pagipun, tanpa saya sadari saya masih merintihkan air mata untuk beliau.. Saya tahu saya harus merelakannya… Mengikhlaskannya… Mendoakan yang terbaik untuknya… Meski sulit rasanya….
Papa…
nane sayang dan kangen banget sama papa…
Selamat jalan papa….
Kita pasti akan bertemu lagi…
I never knew I could hurt like this
And everyday life goes on I wish
I could talk to you for a while
Miss you but I try not to cry
As time goes by
And it’s true that you’ve
Reached a better place
Still I’d give the world to see your face
And be right here next to you
But it’s like you’re gone too soon
Now the hardest thing to do is say
Bye bye…